[ Halaman muka ]      [ Tentang kami ]      [  Email kami ]     [ Buku tamu ]

>>>Laporan Utama

 

KEUNIKAN PUTRI-PUTRI 
SUMATERA UTARA

oleh Ayatun Jalilah & Rika Agustina Daulay



Man Kharaja fii Thalabil ‘Ilmi fahuwa fii sabilillâhi hatta yarji’a (el-Hadits)
Tentu kita tahu substansi dari hadits tersebut diatas, yang menerangkan bahwa begitu mulia orang yang menuntut ilmu di jalan-Nya. Dalam hadits lain juga disebutkan bahwa menuntut ilmu bukan hanya wajib hukumnya bagi wanita saja, akan tetapi kewajiban ditujukan untuk seluruh manusia. Dan begitu banyak ayat Alquran yang menjelaskan tentang keutamaan menuntut ilmu.

 

Mesir sebagai kota yang lebih dikenal dengan "gudangnya ilmu", sekaligus merupakan "ka'batul qushad' bagi para penuntut ilmu dari seluruh penjuru dunia. Contohnya saja, Indonesia yang katanya masih dalam krisis ekonomi yang berkepanjangan, hal ini tidak menyebabkan prosentase jumlah kedatangan para penuntut ilmu ke negeri ini menurun. Bahkan, bisa dikatakan semakin banyak dan bertambah setiap tahunnya. Tak terkecuali juga para mahasiswinya.

 

Kenyataan seperti diatas mengindikasikan bahwa asumsi para orang tua di Indonesia - secara makro- untuk melarang anak perempuannya bepergian jauh sudah berubah. Tidak ada lagi komentar yang mengatakan bahwa anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, karena kelak akan kembali kedapur juga. Apalagi sampai sekolah jauh ke luar negeri.
Dilihat dari realita keadaan, lebih spesifik lagi pada kondisi masyarakat sumatera utara, ternyata asumsi diatas masih -agak– jauh dari kenyataan. Apalagi jika dikaitkan dengan konteks kemesiran. Namun, tanpa bermaksud menafikan kenyataan diatas, kami ingin mencoba merangkum segala faktor-faktor yang -dianggap- memiliki pengaruh dominan dalam beberapa point, yang mudah-mudahan dapat diterjemahkan secara luas oleh mahasiswa dan mahasiswi sumatera utara sendiri. Hingga akhirnya mereka mampu memperbaiki kondisi yang ada agar lebih baik dimasa mendatang. Diantaranya:

 

1 - Masih bekembangnya imej dikala ngan orang tua di sumatera utara, khususnya kaum ibu, bahwa anak perempuan perlu mendapatkan pendidikan, tetapi tidak perlu jauh-jauh, apalagi hingga ke luar negeri. Hal ini terbukti dengan minimnya jumlah mahasiswi sumatera utara di mesir. Dari jumlah mahasiswa-mahasiswi sumatera utara yang berkisar 200-an, ternyata jumlah mahasiswinya tak lebih dari belasan orang saja. Fenomena seperti ini ternyata menggelitik semua orang, khususnya orang-orang sumatera utara sendiri, hingga timbullah pertanyaan dari berbagai pihak menuntut kejelasan dan faktor utama penyebabkenyataan tersebut.

 

2 - Kurangnya informasi tentang kondisi perkuliahan dan suasana di Mesir, sehingga mereka terkesan ragu dan masih sangat gamang.

 

3 - Adanya asumsi, bahwa sistem perkuliahan di Mesir, masih mengedepankan pemahaman tekstual (textbook thinking) atau masih almuhafazhoh 'ala al qodim al-shalih saja, sehingga kurang memberdayakan pemahaman kontekstual bahkan rasional, al-akhdzu bi-al jadid al-ashlah.

 

4 - Sebagian orang tua dan mereka sendiri tidak biasa untuk berjauhan dengan kampung halaman, ada semacam homesick yang berlebihan.

 

5 - Kekhawatiran dan ketakutan mereka terhadap masa studi yang begitu lama ditambah lagi dengan load (beban study) yang dirasa agak memberatkan. Ditambah lagi dengan kewajiban menghapal alqur'an semakin menambah rasa kekhawatiran tersebut.

 

6 - Besarnya dana yang dikeluarkan untuk program non-beasiswa al Azhar yang dalam hal ini dikoordinir oleh depag. Sebenarnya, jika mereka lulus melalui test yang diadakan oleh depag, masih cukup banyak yang berkeinginan untuk studi ke al Azhar. 

 

7 - Adanya sistem administrasi KBRI di Mesir maupun pihak Mesir sendiri yang mempersulit wanita untuk belajar disini, terlebih lagi bagi yang tidak melalui test yang diadakan pemerintah (yang terjun bebas), ada stigma psikologis yang mengasumsikan bahwa setiap perempuan yang ke Mesir dicap sebagai TKW (Tenaga Kerja Wanita) yang 'berbaju' pelajar.

 

8 - Kekhawatiran orang tua terhadap keselamatan putri-putri mereka dari moral accident, bila jauh dari pengawasan mereka.

 

9 - Gaung mahasiswa timur tengah itu sendiri yang belum membahana. Artinya, selama ini masih ada kesan yang beranggapan bahwa pendidikan timur tengah masih belum prospektif di Indonesia. Jadi, terkadang masih terdengar suara sumbang yang terkesan pesimis me ngatakan "mau jadi apa anakku nanti, bila sekolahnya saja di Mesir?". 

 

10 - Kondisi mayoritas orang tua yang belum mengetahui sama sekali prosedur belajar ke Azhar. Hal ini barangkali dikarenakan latar belakang tingkat pendidikan orang tua yang masih sangat sederhana dan rendah.

 

Mengkhawatirkan memang, jika kita melihat masih minimnya minat putri-putri sumatera utara untuk melanjutkan studi ke negeri para nabi ini. Untuk menyikapi problematika diatas, kita sebagai insan akademis yang mewakili putra-putri Sumatra Utara di Mesir, dan yang telah diberi kesempatan oleh Allah untuk menimba ilmu di negeri yang kaya dengan ilmui dan peradaban, hendaknya mampu menjadi stimulan sekaligus motivator bagi generasi-generasi sumatera utara kedepan. Dan agar harapan ini bisa terwujud, hendaknyalah kita harus mengikis habis asumsi negatif tersebut, baik dikalangan muda-mudi itu sendiri maupun dikalangan para orangtua, kita perlu mengadakan pembenahan, baik yang bersifat internal maupun eksternal, khususnya tentang kiprah dan peta pengabdian yang akan kita aplikasikan di tanah air kelak. Tulisan ini bersumber dari berbagai pihak, baik orang tua, mahasiswa dan mahasiswi, serta muda-mudi di Sumatera Utara sendiri. Semoga wacana ini mampu menggugah kepedulian kita semua, dan selanjutnya semakin mendorong semuanya untuk memberikan kontribusi-kontribusi pemikiran yang bersifat solutif bagi kesinambungan generasi mahasiswa/i Sumatera Utara di Mesir. Semoga....

________________________________________________________

Dimuat di buletin Generasi HMM Edisi III Jumadil 'Ula 1423 H./Juli - Agustus 2002 M.

 

 

home

 

 

 

[ Halaman muka ]      [ Tentang kami ]      [  Email kami ]     [ Buku tamu ]

© Himpunan Mahasiswa Medan Mesir 2002

     Silakan menyalin atau mengutip isi atau sebagian dengan mencantumkan sumber HMM Online

Kirim artikel/saran/kritikan 

Kontak Webmaster